Kesepian dan Depresi di Masa Pandemi Terjadi Pada Sapa Saja, Dari Artis Maka Orang Biasa

TABLOIDBINTANG. COM   –  Merasa kesepian, makin stress dan depresi kerap terjadi selama pandemi Covid-19. Perasaan ini pun bisa menghinggapi siapapun tanpa melainkan.   Salah satunya aktris Maudy Ayunda yang mengaku merasa kesepian ketika pelajaran S2 di Stanford University, Amerika Serikat. Meskipun sekarang dia berhasil lulus secara baik, Maudy masih teringat kisahnya yang harus bertemu perkuliahan yang berubah tajam akibat Covid-19.

Dia mencuraikan, jelang pandemi, suasana kampusnya sedang dalam masa seru-serunya. Seketika, proses pembelajaran dilakukan secara online tanpa bertatap muka karena situasi masa itu diharuskan untuk lockdown. Maudy pun mengaku ketika itu merasa teramat kesepian dan merupakan waktu dengan sangat kebingungan. Kondisi itu, lanjut dia, sangat kontras dengan bulan-bulan awal dirinya belajar di Stanford.  

Kisah Maudy pun terjadi secara masif di Tanah Air. Sebuah survei yang dilakukan Into The Light & Change. org menunjukkan kalau 98% orang Indonesia merasakan kesepian dalam satu bulan terakhir.   Yang merusuhkan, dua dari lima peserta bahkan merasa lebih tertib mati dan melukai muncul sendiri dalam dua minggu terakhir selama periode inspeksi dilakukan.  

Studi terkait kesehatan mental asosiasi Indonesia tersebut dilakukan di dalam periode Mei hingga Juni 2021. Riset ini melibatkan 5. 211 responden daripada enam provinsi di Tanah Jawa. Tak hanya tersebut. Survei tersebut mengungkapkan kalau lebih banyak partisipan inspeksi meyakini anggota keluarga serta teman dekat berjenis kelamin sama sebagai sosok dengan lebih membantu dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa dibandingkan dengan tenaga kesehatan spirit profesional.

Menurut Andrian Liem, peneliti pascadoktoral University of Macau, keyakinan tersebut membuktikan bahwa partisipan membutuhkan pertolongan sosial. Akan tetapi, tinggi dia, perlu diingat bahwa tenaga kesehatan jiwa cakap lebih memiliki keahlian dalam menangani kesehatan mental serta dapat menjaga rahasia konsumen yang berkonsultasi.

Fenomena itu pun selaras dengan hasil survei yang menemukan bahwa hampir 70% dari mutlak partisipan mengaku tidak sudah mengakses layanan kesehatan moral dalam tiga tahun belakang. Alasan yang dominan ialah biaya layanan kesehatan mental dianggap tidak terjangkau.

Real, biaya konsultasi untuk kesehatan jiwa bagi pemilik kartu BPJS dapat ditanggung dengan gratis. Namun, sebanyak 7 dari 10 partisipan tidak mengetahui informasi ini.   Hasil temuan lain yaitu hampir 70% partisipan dengan pernah mengakses layanan kesehatan tubuh mental berkonsultasi secara daring.

Mengatasi kesepian

Menurut psikolog Danti Wulan Manunggal, kesepian adalah sebuah keadaan pada mana seseorang merasa tawar, sendirian, bahkan juga jadi tak diinginkan. Perasaan itu semakin marak menjangkiti umum di masa pandemi, yang salah satunya juga dipicu oleh pembatasan-pembatasan dalam bersosialisasi.  

Danti mengatakan bahwa perasaan kesepian bisa menimpa semua orang dengan berbagai karakter, baik itu introvert maupun ekstrovert. Gubler serta Schlegel adalah psikolog perdana yang menguji cara kepribadian, baik introvert maupun ekstrovert, dalam menghadapi pandemi.  

Pada akhir Maret hingga awal April 2020, mereka menguji 466 responden pada sebuah survei online yang mengukur cara kepribadian di menyikapi pandemi. Analisis lantaran studi tersebut pun kemudian diterbitkan di akhir tarikh 2020. Hasil studi menyebutkan, baik ekstrovert dan introvert hampir tak memiliki memperlawankan dalam mengalami kesepian, kebingungan dan depresi akibat sejak pandemi.

Lebih jauh patuh Danti Wulan, stres mampu beranjak dari mana saja, termasuk kesepian dan menikmati bosan. Stres yang tak dikelola dengan baik kendati dapat berdampak buruk, salah satunya menurunkan imunitas tubuh.

Menurut nya, kita harus mengingat sumber stres kemudian menyadari bahwa kita semua harus beradaptasi dalam kondisi biasa baru yang ada. Mengganti pola pikir negatif serta membiasakan pola pikir pasti.  

Hal-hal seperti menekan penggunaan media sosial supaya tak memicu kecemasan, melayani hobi yang disukai supaya kesepian dan kebosanan teralihkan, juga memperbanyak aktivitas fisik seperti olahraga teratur.  

Selain itu, mengambil kursus daring untuk pengembangan muncul juga bisa membantu. Tak hanya menambah ilmu, jejaring dan pertemanan pun mampu bertambah luas.

Hal selaras diungkapkan Psikolog Klinis Masa, Yulius Steven, M. Psi. Menurut nya, di masa pandemi ini yang paling penting adalah keterhubungan dengan orang lain. Tanpa interaksi itu, dampaknya bisa merasa kesepian, stres, cemas, dan depresi. Bahkan, ada pula yang mencoba bunuh diri.

Selain itu, Yulius menyarankan supaya tetap aktif untuk menyekat banyak hal seperti overthinking, kebingungan dan lain-lain. Menghindari hoaks pun penting menurut dia.

Hoaks ini, lanjut Yulius, bisa memunculkan konflik lewat perdebatan yang menghasilkan kerenggangan hubungan. Tentunya ini tidak dibutuhkan di masa pandemi ini karena yang dibutuhkan justru rasa keterhubungan.